PERNIKAHAN DAN BAKTI YANG TERBAGI

Aku duduk diantara tamu undangan yang hadir. Melihat dua insan Tuhan tengah merayakan cinta. Ya, hari ini salah seorang sahabat tengah melangkah menuju fase baru dalam hidupnya. Aku membayangkan betapa banyaknya hati yang berbahagia saat ini. Kedua mempelai, keluarga, sahabat termasuk aku sendiri serta orang tua sahabatku itu.

Setiap menghadiri pesta pernikahan, aku selalu melihat ekspresi bahagia bercampur haru dari orang tua yang tengah menikah. Bahagia tentunya, melihat anaknya akan mengarungi kehidupan baru, memiliki keluarga baru, serta melanjutkan garis keturunan keluarga. Namun, dari senyum-tawa bahagia itu, ada ekspresi haru dan sedih yang sering kali terlihat. Aku mungkin belum pernah merasakan menjadi orang tua dan memiliki seorang anak yang akan menikah. Namun, aku bisa paham yang menyebabkan ada rasa haru dan sedih yang hinggap. Perasaan akan melepaskan anak yang selama ini dibesarkan, untuk hidup mandiri dan membangun keluarga sendiri.

Lalu, apa sebenarnya yang berubah diantara hubungan orang tua dengan anak yang telah menikah? Mengapa sepertinya pernikahan selalu bermakna perpisahan sehingga tak jarang membuat baik si anak maupun orang tua menitikkan air mata saat pernikahan?

Pada dasarnya tak ada perbedaan. Seorang anak tetaplah hanya seorang anak. Dan selamanya orang tua tetaplah menjadi orang tua yang akan selalu menjadi tempat kita memberi bakti.

Aku ingat pada suatu kesempatan pernah bertanya pada seorang teman perempuan yang telah menikah terkait dengan hubungannya dengan orang tuanya pasca menikah. Ia mengatakan bahwa orang tua tetaplah orang tua yang protektif, selalu menanyakan kabar anaknya, hubungannya dengan pasangannya, menanyakan apakah ia makan dengan baik, uangnya cukup atau tidak dan hal-hal lain yang biasanya ditanyakan orang tua kepada anak. Hanya bedanya, temanku selalu berusaha untuk tidak mengungkapkan masalah yang kiranya masih bisa ia selesaikan sendiri.” Tidak ingin membuat khawatir orang tua” katanya.

“Kita juga harus pandai dalam memilih curhatan yang bisa disampaikan kepada orang tua. Jangan sampai masalah rumah tangga menjadi lebih rumit bila orang tua turut campur. Bagaimanapun, kita akan selalu dilihat sebagai anak kecil oleh orang tua sendiri” ungkapnya.

Temanku itu juga menuturkan bahwa setelah menikah kita dituntut untuk lebih mandiri. Yang dulunya kita anak yang menggantungkan kebutuhan pada orang tua, sekarang sepenuhnya hak milik suami. Namun, tetap tidak boleh lupa pada orang tua. Tetap selalu ingat menanyakan kabar orang tua atau sebaliknya memberi kabar. Biasanya mereka lebih sensitif dan suka ‘ngambek’ bila lama tak dikabari. Jadi sebagai anak, kita harus pintar dalam memposisikan diri sebagai anak dan sebagai istri.

Memposisikan diri sebagai anak dan istri. Berat juga, pikirku. Di satu sisi, kita adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan dengan baik oleh orang tua. Di sisi lainnya, sebagai seorang istri kita yang wajib patuh pada suami. Dalam Islam sendiri dijelaskan pada sebuah hadits “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban). Jelas bahwa ridho Allah tergantung pada ridho suami. Namun jangan sampai taat pada suami mengurangi bakti kita pada orang tua. Mungkin seperti itu adilnya.

Rekaman percakapan dengan temanku hari itu pun seperti terputar kembali hari ini saat berada di pesta pernikahan. Melihat orang tua mempelai yang menyalami satu per satu para undangan. Tak jarang matanya berkaca-kaca jika ada undangan yang mungkin keluarga atau teman dekat bersalaman bahkan berpelukan dengannya. Apa yang ia rasakan mungkin sama dengan apa yang orang tua temanku yang telah menikah rasakan. Perasaan campur aduk. Bahagia dan was-was. Entahlah, suatu saat mungkin aku sendiri yang akan mengalaminya.

Menjadi orang tua yang akan menikahkan anaknya? Lamunanku buyar seketika saat seorang teman menyodorkan minuman kepadaku. Hal itu tentunya masih sangat lama. Kewajiban yang melekat padaku sekarang hanyalah menjadi seorang anak. Anak yang tentunya wajib baginya patuh dan berbakti pada orang tua. Dan jiak kelak aku ditakdirkan menikah yang akan menuntutku membagi bakti, aku tentunya berusaha semaksimal mungkin senantiasa berbakti pada semuanya, meski pasti tak akan selalu sempurna. Ah, semakin menghayal jadinya. Mungkin tidak ada teori yang pas bagaimana bersikap adil itu sendiri, hanya dengan menjalaninya, kita baru akan tahu.

(Visited 108 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *