Media Sosial: Parameter Kuatnya Karakter Suatu Bangsa?

Apa yang ada di benak kita jika mendengar media sosial?

Selebritis? Instagram? Facebook? Twitter? Atau sejumlah media sosial sejenisnya? Saya pribadi jika ditanya tentang media sosial maka hal itulah yang terlintas di benak saya pertama kali. Meski ya, saya paham bahwa media sosial tidak sekecil itu.

 

Hari ini saya menghadiri acara bincang santai yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (KOMINFO) dengan tema “Aktualisasi nilai-Nilai pancasila dalam Bermedia Sosial”. Dari judul mungkin nampak berat, namun apa yang disampaikan dalam bincang santai kali ini tidak seberat temanya. Para narasumber yang hadir membawakan materi dengan begitu santai, emnarik, bahkan lucu. Masih dengan suasana Bulan Suci Ramadan, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama.

Bapak Heri santoso selaku narasumber pertama yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada ini menyampaikan bahwa pancasila merupakan falsafah hidup yang nilai-nilainya diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbudaya, beragama dan bermasyarakat. Beliau yang juga merupakan dosen filsafat di Universitas Gajah Mada ini menyatakan bahwa pancasila harus menjadi aturan main bersama dalam masyarakat termasuk dalam bermedia sosial.

Sambil berkelakar beliau menyatakan bahwa kita harus meninggalkan istilah lama “Bad news is a good news”.  Sebab hal tersebut bukanlah menjadi  budaya yang baik dalam bermedia sosial.

Sejalan dengan yang diungkapkan Prof Dr. H. M Galib. M. MA  bahwa penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab merupakan pemicu adanya berita hoax, fitnah, kebohongan dan ujaran kebencian . Beliau yang menjabat sebagagai sekretaris umum Majelis Ulama Indonesia Sul-Sel ini menegaskan bahwa kita jangan sampai merasa puas melecehkan orang-orang yang berbeda. Beliau juga menyampaikan bahwa sebuah kebenaran harus dismpaikan dengan cara yang baik dan waktu yang baik pula.

Saya seperti merasakan nafas baru dalam bermedia sosial saat berita tentang keluarnya fatwa MUI tentang larangan mengeluarkan berita bohong, hoax dan menebarkan kebencian di media sosial. Bagaimana tidak, gerah saja rasanya dengan media sosial yang begitu ramai dengan saling menebarkan berita buruk, mencaci dan  menjelekkan orang/golongan. Belum lagi kebiasaan share postingan tanpa membaca dengan baik dan tanpa mengkonfirmasi kebenaran postingan tersebut.

Sedangkan Bapak Handoko Data yang merupakan salah satu tim Komunikasi Presiden lebih banyak menyampaikan materi melalui video-video yang membangkitkan semangat. Menonton video tersebut membuka mata saya betapa banyak hal yang menjadi PR bersama untuk mencapai  tujuan dari bangsa ini. Bukan hanya terkait dengan pembangunan infrastruktur tetapi lebih kepada pembangunan karakter masyarakat suatu bangsa. Dan kita, Indonesia adalah bangsa yang berkarakter santun dan berbudi .

(Visited 34 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *