Mati, Untuk Pengingat Mati

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian” (HR. At Tirmidzi)


Tangan pria itu gemetar, mengulurkan selembar kertas. Wajahnya pucat. Mungkin di antara orang di ruangan penuh pasien dan pengunjung ini, ialah yang perasaannya paling kalut. “Besok keluarganya datang” kata pria paruh baya itu. Saya lalu menerima kertas tanda penyelesaian administrasi yang dia sodorkan.

Ia berdiri tepat di sebelah keranda hijau bersama petugas yang siap menjemput teman yang datang bersamanya dua jam yang lalu. Ia nampak kebingungan. Bagaimana tidak, mereka masih bersama dua jam yang lalu. Menginap bersama di sebuah hotel karena perjalanan dinas . Sekarang ia harus siap menerima kenyataan bahwa teman yang bersamanya sudah tak ada.

***

Ia berdiri mematung, menyaksikan banyak dokter dan perawat berkumpul di tempat tidur Bapak yang ia antar. Begantian mereka naik ke sebuah kursi di samping pasien, berbungkuk dan meletakkan kedua tangan di dada si Bapak dengan terus melakukan gerakan memompa. Dalam dunia kesehatan ini disebut RJP (Resusitasi Jantung Paru) dengan tujuan agar jantung tetap dapat memompa mengalirkan darah.

Seorang lagi berdiri di kepala si Bapak, sebuah sungkup melekat di hidungnya. Dokter terus memompa kantong hijau yang tersambung mellaui sebuah selang dengan sungkup tadi untuk mengalirkan udara. Selain jantung, pernafasan si Bapak juga harus dibantu oleh alat dan manusia.

Saya sendiri berdiri di samping emergency trolley (troli untuk meletakkan obat-obatan untuk penanganan pasien gawat dan darurat) bertugas untuk segera menyediakan dan menyuntikkan obat-obatan yang dibutuhkan.

Hampir dua jam RJP terus dilakukan. Keringat sudah bercucuran dari petugas yang melakukan RJP. dua kali nadi si Bapak teraba kembali selama proses RJP namun lagi-lagi menghilang. Dan harus kemabli dirangsang dengan memompa jantungnya.

Susana begitu hening saat dokter telah menyatakan kematian si Bapak. Sebuah monitor yang terhubung dengan dada si Bapak melalui kabel berwarna-warni terus berbunyi dan menampakkan garis datar. Lagi-lagi ada kuasa Tuhan di atas segala upaya manusia.

Pria yang menemani masih mematung nampak begitu syok. Tangannya terus memegang handphone menghubungi keluarga si Bapak yang berada di Bandung untuk memberi kabar.

Dia tidak pernah menyangka kejadian seperti ini akan menimpa temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Mereka datang bersamadalam keadaan sehat. Ia pun mengantar si Bapak kerumah sakit hanya dalam keadaannya yang masih sadar.

Saya sendiri yang dari awal menerima si Bapak di UGD masih sempat  menanyai apa yang ia keluhkan. “Kenapaki’ Pak?” saya menayainya sambil memeriksa nadinya yang sudah begitu lemah. “Sakit” hanya itu yang si Bapak  katakan namun pria yang mengantarnya tadi mengatakan bahwa perasaannya tidak enak. Tangan dan kakinya sudah begitu dingin saat saya sentuh. Tensinya pun sudah tidak terukur. Dokter pun segara mengambil tindakan cepat saat itu. Tak lama, beberapa dokter dan teman perawat sudah berkumpul. Namun lagi-lagi serangan jantung tak butuh waktu lama untuk seorang pasien menjadi tak sadarkan diri. Bagaimana jika darah dan oksigen yang menjadi sumber kehidupan kita tak lagi mengalir ke seluruh tubuh?

(Ilustasi. Sumber gambar: www.nytimes.com)

(Ilustasi. Sumber gambar: www.nytimes.com)

Pria itu masih berbicara melalui handphone saat semua alat yang melekat di tubuh sang Bapak dilepaskan satu per satu. Kabel-kabel monitor, dua buah selang infus, dan selang oksigen. Saya membayangkan berada di posisi pria itu, bagaimana ia harus menjelaskan padakeluarga si Bapak.

Terlebih berada di posisi keluarga yang ditinggalkan orang yang mereka sayangi yang mereka lepas kepergiannya dalam keadaan sehat kini sudah tak bernyawa tanpa mereka ada di sisinya di saat-saat terakhir. Malaikat maut dengan taat nya yang penuh enggan untuk tahu apakah si Bapak berada di rumahnya atau tidak,berada di tengah keluarganya atau tidak atau apakah ia siap atau tidak. Ia akan mengambil nyawa tepat pada waktu yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Tanpa kurang sepersekian detik pun.


 

Entah berapa banyak lagi kematian yang akan saya dapati dengan berbagai cerita yang mengiringi. Pernah suatu kali seorang pasien meninggal tanpa didampingi keluarga sebab keluarga yang mengantar ke rumah sakit pergi begitu saja. Pernah sekali pasien yang pulang dari tanah suci Makkah meninggal sebelum ia bertemu keluarganya di rumah. Juga beberapa kali keluarga meminta kami berhenti di tengah kami melakukan RJP. Mereka sudah pasrah dengan kematian keluarga yang mereka dampingi. Beberapa juga meminta untuk memulangkan keluargamereka yang sudah tak tak sadar dan seperti tak ada harapan dengan asumsi akan lebih baik jika meninggal di rumah sendiri. Tak jarang pula yang meraung-raung tak menerima dengan kematian yang menimpa.

Lagi-lagi, menyaksikan kematian membuat saya sadar bahwa saya pun akan menuju ke sana. Entah di umur yang ke berapa, di mana, dengan cara apa atau apakah saya siap atau tidak. Yang bisa dilakukan adalah dengan tetap berusaha menjadi sebaik-baik manusia untuk bekal akhirat. Mengingat kematian akan membuat kita tersadar bahwa dunia ini kelak akan kita tinggalkan dengan hanya amal yang kita bawa, entah itu amal baik atau buruk.

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian” (HR. At Tirmidzi)

(Visited 190 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *