Layanan Kesehatan : Lae-Lae Pun Berhak!

Bu Rahmatia nampak kesulitan dengan anak yang dia gendong, Ningsih. Balita 3 tahun ini menangis di pelukan ibunya.   Kusentuh kepalanya yang agak hangat “Demamki, satu minggumi ini, tapi turun-turunmi ini iyya, masih natunggui bapaknya belikanki obat di sebelah, adaji resepnya dari Rumah Sakit Hikmah” kata Bu Rahmatia, waktu saya menanyakan perihal Ningsih. Sebelah yang ia maksudkan adalah di seberang laut tepatnya di Kota Makassar.

Lain dengan Bu Rosmawati. Wanita yang tengah hamil anak kembar 6 bulan ini nampak tergopoh-gopoh dengan perut besarnya ketika saya bertemu di jalan dengannya hari itu. Di tasnya yang tidak tertutup rapat nampak buku pemeriksaan kehamilan berwarna pink. Ia hendak menyeberang ke rumah sakit di Makassar. Sejak ia pernah menderita demam berdarah, ia harus rutin memeriksakan diri di rumah sakit di Makassar, bukan di puskesmas setempat seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Aku tak bicara banyak dengannya hari itu. ia harus cepat sebelum ombak dan angin semakin besar dan kencang, sebab hari itu ombak sedang besar dan hujan baru saja reda.

Bu Rahmatia dan Bu Rosmawati adalah warga Pulau lae-lae . Mereka adalah dua contoh warga yang berusaha mendapatkan pengobatan dan pelayanan kesehatan di seberang, Kota Makassar. Pulau Lae-Lae sebenarnya sangat dekat dengan Kota Makassar. Pulau dengan luas 6,5 ha yang masuk dalam wilayah Kecamatan Ujung Pandang ini hanya berjarak kurang lebih 1,5 km dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit dengan mengunakan perahu atau speedboat. Hanya saja menyeberang lautan tetaplah menjadi tantangan bagi warga. Biaya untuk menyeberang, dan cuaca yang sulit untuk diprediksi terkadang menjadi faktor penyulit.

Suasana siang hari di Pulau Lae-Lae

Suasana siang hari di Pulau Lae-Lae

Menjadi warga di sebuah pulau kadang beresiko seperti ini. Tak ada apotek untuk membeli obat yang lebih lengkap. Tak ada rumah sakit yang terbuka 24 jam. Ada banyak cerita Ibu-Ibu yang melahirkan di kapal di tengah laut, saat tengah perjalanan menuju Rumah Sakit di Kota.

Beruntung, di Lae-Lae ada seorang dukun terlatih yang bisa membantu persalinan. Ialah Coppong Dg Kebo, wanita berusia di atas 60 tahun ini menjalani profesi sebagai dukun beranak sejak puluhan tahun yang lalu. Kemampuannya konon menurun dari Nenek dan Ibunya. Selain itu, ia mendapat bantuan dari pemerintah atas rekomendasi dari bidan setempat. Ia pernah mendapat pelatihan dari RS Andi Makkasau dan peralatan untuk membantu persalinan. “Banyakmi di sini yang saya kasi melahirkan, banyakmi anak dukunku* yang sudah kawin, banyakmi lagi iyya anaknya lagi yang saya bantu lahir” ujar beliau dengan logat khas Makassarnya.

Bukan hanya membantu persalinan, Coppong Daeng Kebo juga membantu ibu nifas. Misalnya mengurut ibu ataupun bayinya. Biasanya bila ada yang akan melahirkan beliau akan dipanggil. Sudah banyak pengalaman membantu persalinan yang beliau alami. Menyusul ke tengah laut di malam hari saat ada yang melahirkan di kapal, pernah juga ada yang melahirkan di rumah-rumah*.

Untuk biaya, beliau tidak pernah menetapkan tarif. “Seadanya saja dan seikhlasnya. Tidak ada juga tidak apa-apa”. Ungkap beliau.

***

Tak semua warga Lae-Lae yang mengalami masalah kesehatan memilih untuk berobat dengan menyeberang ke kota. Di Pulau Lae-Lae terdapat sebuah Puskesmas pembantu dan tiga buah posyandu di setiap RW nya. Masing-masing di RW I, II, dan III.

Tiwi misalnya, ibu muda yang lahir dan besar di Pulau ini manjadi penerima layanan Keluarga Berencana dari Puskesmas secara rutin. Begitu pun dengan Nugraha, putra pertamanya yang berusia empat bulan ini secara teratur ditimbang dan diimunisasi di Posyandu. Menurut Tiwi, kegiatan Posyandu selalu terjadwal di setiap bulannya yaitu di tanggal 20, sehingga ia merasa nyaman untuk membawa anaknya ditimbang dan diimunisasi, meskipun pernah sekali imunisasi HB-0 untuk Nugraha tidak diberikan sebab tidak adanya ketersediaan vaksin HB-0 pada saat itu. Nugraha juga pernah terserang demam, dan ia dibawa berobat ke tempat praktik dokter di kota.

Begitupun dengan Pak Patta, yang sewaktu saya temui berencana untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas “ Seringka’ poso na roko-roko ka, sakit-sakit juga lutuku jadi mauka ini mapparissa”. Kata beliau sambil menghisap rokonya. Lucunya meskipun kadang sesak dan batuk-batuk ia tetap asyik menikmati rokoknya. Saya jadi iseng untuk bertanya apakah di sini pernah ada penyuluhan kesehatan. “Pernahji, tapi lama sekalimi. Upa’ kalo satu kali na satu tahun” ungkap kakek ini dengan tersenyum.

Pak Patta, salah seorang warga Pulau Lae-Lae

Pak Patta, salah seorang warga Pulau Lae-Lae

IMG_20151101_130950Hj. Sunarti, salah seorang warga Pulau Lae-Lae adalah penanggung jawab untuk kebersihan Puskesmas. Setiap hari beliau membersihkan dan membuka Puskesmas bila petugas kesehatan yaitu bidan dari Makassar yang bertanggung jawab telah tiba di Pulau. “Senin sampai Jumat na buka ini Puskesmas, biasa jam sembilan atau sepuluh na datang petugasna, tutupki itu jam setengah sebelas atau jam sebelas, tapi kalau tinggi ombak atau hujanki tidak datangki petugasna”.

Menurut Hj. Sunarti, jumlah pasien yang datang berobat berkisar sepuluh orang. Kebanyakan ibu hamil dan orang tua. Biaya hanya dikeluarkan oleh warga yang tidak memiliki kartu Jamkesmas ataupun KTP, biasanya berkisar Rp 10.000-Rp 15.000. Namun rata-rata warga telah memiliki kartu Jamkesmas, sehingga hampir semua warga dapat berobat secara gratis.

Puskesmas Lae-Lae yang meurpakan Puskesmas pembantu di bawah naungan Dinas Kesehatan Kota Makassar ini memang tak begitu besar, namun tampak sangat rapi dan tertata. Dindingnya terbuat dari kayu yang dicat berwarna putih. Di ruang tunggu terdapat sebuah sofa sederhana dengan poster-poster kesehatan terpajang di dinding. Terdapat sebuah ruang pemeriksaan dengan sebuah meja besar dan sebuah meja kecil dengan timbangan bayi di atasnya serta dua buah kursi untuk petugas dan pasien. Selain itu terdapat ruang pemeriksaan dengan sebuah tempat tidur di dalamnya. Biasanya ruangan ini digunakan untuk pemeriksaan kehamilan seperti yang diungkap Hj. Sunarti. Beliau melanjutkan bahwa Puskesmas ini akan direnovasi dan dibangun dua lantai.

PUSKESMAS Lae-Lae

PUSKESMAS Lae-Lae

Tidak bisa disangkal bahwa modal utama kita sebagai manusia adalah kesehatan. Tanpa tubuh yang sehat, mustahil kita bisa melakukan aktivitas. Kita kerap kali mendengar pepatah bijak kesehatan adalah harta terbaik. “Good Health is the best wealth

Salah satu hal yamg menjadi pendukung status kesehatan yang baik di masyarakat adalah adanya fasilitas ksehatan yang memadai dan mudah dijangkau. Puskesmas yang merupakan layanan kesehatan primer memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat. Dan warga Pulau Lae-Lae dengan jumlah kepala keluarga berkisar 400 dan jumlah penduduknya yang berkisar 2000 jiwa berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mudah dan memadai. Obat-obatan yang lebih lengkap, Puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas lebih terjadwal atau mungkin bidan desa yang tinggal di Pulau lae-Lae. Sehingga Ningsih tak perlu lama menunggu bapaknya membelikan obat di kota, Bu Rosmawati tak perlu repot menyeberang ke kota dengan perut besarnya, atau tidak ada lagi cerita ibu-ibu yang melahirkan di kapal atau di rumah-rumah* dengan segala resiko kesulitan persalinan yang bisa terjadi.

Pulau Lae-lae saja yang jaraknya sangat dekat dengan kota, belum bisa dikatakan dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan mudah. Lalu, bagaimana nasib warga yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terluar lainnya?

 

Notes:

  1. Satu minggumi: sudah seminggu
  2. Natunggui: menunggu
  3. Banyakmi: sudah banyak
  4. Kasi melahirkan: member bantuan persalinan
  5. Anak dukun: biasanya digunakan untuk menyebutkan anak yang lahir karena bantuan dari dukun tersebut
  6. Petugasna : petugasnya
  7. Seringka’ poso na roko-roko ka : sering sesak dan batuk-batuk
  8. Upa’ : beruntung
  9. Rumah-rumah : Rumah kecil, serupa dengan pos ronda. Di lae-Lae umunya warga memiliki tempat peristirahan di halaman rumah, biasanya terbuat dari bamboo dan kayu. Ada yang berdinding dan beratap, anmun ada pula yang hanya serupa balai-balai
  10. HB-0 : merupakan bagian dari imunisasi Hepatitis B, diberikan di usia 0-7 hari.
(Visited 152 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *