KENANGAN KECIL YANG TERTINGGAL DI MAKASSAR

Seorang anak perempuan berusia kira-kira enam atau tujuh tahun, duduk bersandar pada wanita di sampingnya yang tak lain adalah ibunya. Perjalanan dengan Bus Damri kali ini akan memakan waktu lebih satu jam. Tapi ia menikmati perjalanan meski hawa dalam bus cukup panas. Tanpa ac memang. Sebentar lagi ia akan teritidur di pangkuan ibunya. Ia selalu begitu. Ia akan tertidur tak lama setelah bus berjalan. Ia akan terbangun, lebih tepatnya dibangunkan saat bus telah tiba di tempat tujuan. Tempat yang selalu membuatnya melupakan lelah perjalanan. Wahana bermain.

***

Seperti itu mungkin kenangan yang yang sangat berbekas dan sangat saya rindukan ketika liburan sekolah semasa SD tiba. Saya akan diajak ke Makassar oleh ibu, biasa juga yang mengajak jalan adalah tante saya.

Tempat yang paling membuat saya semangat adalah wahana bermain. Tempat yang sering saya kunjungi adalah Kembang Melati dan Odede yang berlokasi di sekitar Pasar Sentral. Jenis permainan yang ada pada dasarnya sama dengan yang ada di tempat permainan lain di Time Zone misalnya. Kuda-kudaan, mobil-mobilan, kereta atau mandi bola.

Selain bermain. Apa lagi yang menyenangkan di saat seorang anak desa liburan ke kota? Yah. Belanja, terkhusus perlengkapan sekolah. Akan sangat membuat percaya diri dan membanggakan datang ke sekolah di hari pertama dengan sepatu atau tas baru. Ibu paling sering mengajakku ke Pasar Sentral. Di sana ibu akan menawar dengan harga yang lebih rendah. Dulu aku berpikir bahwa ibu menawar dengan keterlaluan. Sekarang saya baru sadar, memang seperti itulah cara berbelanja di Pasar Sentral. Harus menawar dengan harga di bawah setengah harga. Seperti itu mungkin rumusnya.

***

Makassar mungkin seperti itu di mata saya sejak SD sampai SMA. Sebatas kota yang dikunjungi saat liburan tiba. Kota yang asing namun selalu berhasil membuat saya kembali.

Sekarang sudah sembilan tahun sejak saya berhijrah ke kota ini. Tepatnya saat memasuki bangku perguruan tinggi. Ada banyak hal yang tidak lagi saya temukan. Bus Damri misalnya. Kendaraan yang biasa saya gunakan sudah tidak ada lagi. Pete-pete telah menjadi kendaraan umum utama di kota ini. Namun belakangan ada BRT atau Bus Rapid Transite yang menjadi pilihan berkendaraan umum yang . digunakan masyaratakat Makassar. Selain karena tempat duduk yang lebih nyaman, BRT biasanya ber ac, sehingga lebih membuat nyaman penggunanya.

Tentang wahana bermain semacam Kembang Melati atau Odede? Sudah tak ada lagi. Jika ada yang berkunjung ke Makassar saat ini dan ingin bermain di wahana permainan maka sekarang Makassar punya wahana bermain yang lebih besar dan ekstrim, Trans Studio. Meski harga tiket masuk tidak bisa dikatakan murah. Selain berbagai wahana permainan, ada juga Mall Trans Studio yang sangat besar dan megah. Benar-benar sangat memanjakan.

Tentang Bus Damri, Odede, Kembang Melati atau pun Pasar Sentral, mungkin bukan wujud fisiknya lah yang saya rindukan, namun lebih pada kenangan yang melekat. Sungguh, saya benar-benar rindu kali ini.

Pembangunan sebuah kota akan terus berkelanjutan, termasuk Makassar. Saya masih ingat waktu SMA hanya Mall Ratu Indah yang sangat terkenal di telinga saya. Meski harus naik pete-pete sebanyak tiga kali untuk sampai ke sana. Sekarang mall dibangun di mana-mana, bahkan daerah Daya pun sekarang sudah ada mall. Begitu pun dengan hotel yang kini sudah menyentuh daerah yang disebut sebagai pinggir kota, Sudiang misalnya karena jaraknya yang tak jauh dari Kota Maros. Banyak daerah yang dulunya hanya rawa disulap menjadi perumahan mewah. Bandara pun tak lepas dari sentuhan pembangunan. Setelah pindah lokasi dan berubah menjadi Bandara Internasional. Renovasi demi renovasi terus dilakukan.

Lalu apa yang tak berubah dari Kota ini? Mungkin masih banyak hal yang tak berubah, hanya saja yang saya lihat pengemis dan anak jalanan masih setia dengan aktivitas mengamen dan meinta-minta di jalan. Penjambretan dan pencurian masih terjadi di mana-mana. Minggu lalu misalnya, dua teman saya menjadi korban jambret. Itu baru korban dari orang yang saya kenal, belum yang lain. Apakah meningkatnya pembangunan benar seiring dengan kriminalitas?

Bagaimana pun, saya selalu rindu dengan kota ini. Selalu ada magnet yang seolah menarik saya tinggal di sini lebih lama. Banyak hal yang telah terjadi di kota yang hampir berusia 409 tahun ini. Kuliah, kerja, teman, sahabat, keluarga dan ilmu yang saya dapatkan sudah sangat tak terhingga.

(Tulisan yang lahir dari percakapan kecil dengan beberapa teman, tentang liburan masa kecil, tentang Makassar yang sudah berubah, tentang mall yang dulunya hanya rawa)

 

 

(Visited 185 times, 2 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *