Karena Bukti Serius Adalah Komitmen

“Mereka yang tidak berani berkomitmen adalah mereka yang sedang berencana meninggalkanmu sewaktu-waktu” (Kurniawan Gunadi)

(Sumber foto: www.dokter.id)

(Sumber foto: www.dokter.id)


Apa yang menyedihkan dari sebuah hubungan asmara? pertengkaran yang berujung perpisahan? Bukan. Hari ini aku mendapati sebuah hubungan yang diakhiri tanpa pertengkaran. Dan nampaknya, itu lebih menyakitkan.

***

Pukul sebelas malam., memasuki jam tidur saat handphone sepertinya menjadi teman pengantar tidur yang tidak ampuh, membuat mata yang tadinya ngantuk setengah mati menjadi segar kembali. Sebuah notifikasi di blackberry messanger. Dari seorang teman rupanya. Memang di jam seperti inilah biasanya adegan chat kami selalu terjadi. Saat waktu pagi-sore tersita untuk rutinitas kerja, kuliah atau hal-hal menyibukkan lainnya. Berawal dari tanya kabar. Ketawa-ketiwi sampai akhirnya aku menanyakan “Baik-baik saja sama pacarnya?”. Dan ternyata seperti perasaanku bahwa hubungannya sedang tidak baik-baik saja benar adanya. Bagaimana tidak, status media sosial yang selama ini berbunga-bunga, tiba-tiba hilang. Berganti status melow-galau-baper*. Hanya saja, aku belum sempat dan belum mendapat momen yang pas untuk bertanya. Lagipula kabar terakhir yang ku tahu adalah awal tahun ini mereka akan menikah. Bagaimana mereka akhirnya berakhir? Tidak ada masalah, tidak ada pertengkaran. Percakapan terakhir mereka adalah rencana pernikahan. Kemudian loss contact, dan selesai.

“Sangat berat di awal. Namun, sekarang sudah baik-baik saja”. Itu yang sahabatku katakan. “Jadi, hari itu cari guru spiritual karena ini?” Aku lalu teringat beberapa pekan lalu ia menghubungiku meminta bantuan dikenalkan pada seorang guru spiritual. Dan aku tanggapi dengan tawa “Sok artis kamu”. Kemudian chat berakhir dengan saling mengingatkan untuk lebih berhati-hati. Dan berakhir dengan sumpah sahabatku untuk tidak pacaran lagi karena kapok. Dan terhadap sumpahnya sendiri. Aku ragu.

***

Terdengar sangat jahat memang. Namun untuk mengatakan bahwa laki-laki itu berengsek dan selalu melukai perasaan perempuan? Tidak bisa seperti itu. Menggeneralisasikan benar-benar tidak adil. Masih ada banyak laki-laki baik dan tak jarang pula justru wanita lah yang menyakiti perasaan laki-laki. Ada banyak cerita asmara di mana laki-laki menjadi korban, pun sebaliknya dengan perempuan. Aku sendiri sebenarnya kurang sepakat dengan kata korban ini. Seolah-olah pasangannya yang kemarin adalah seorang tersangka yang harus mendapat kutukan dan hukuman setimpal. Bahkan lebih. Padahal bisa jadi berakhirnya sebuah hubungan asmara adalah karena keduanya bersalah. Entahlah, dalam persoalan ini aku sendiri kurang paham, hanya selalu mendengar cerita orang lain. Aku sendiri bukan penganut hubungan ‘pacaran’. Hanya sering dijadikan ‘tempat sampah’ (baca : tempat curhat) dari kisah asmara orang lain.

Namun, dari cerita temanku tadi, apapun masalah yang mendasari laki-laki ini memutuskan kontak secara sepihak adalah salah adanya. Bicara saja jika ada masalah. Buat semuanya jelas. Semenyakitkan apapun hasilnya. Atau mungkinkah ia hanya sudah bosan? Tidak punya alasan untuk memutuskan hubungan? Atau ia berniat kembali lagi nanti dengan sejuta alasan? Atau sebenarnya ia belum siap untuk berkomitmen dalam hubungan serius?. Maaf, jika aku terlalu banyak menerka.

Aku kemudian teringat pada sebuah kalimat dalam salah satu buku  Kurniawan Gunadi. Kira-kira bunyinya seperti ini “Mereka yang tidak berani berkomitmen adalah mereka yang sedang berencana meninggalkanmu sewaktu-waktu”. Dan maaf, jika saya setuju dengan hal ini. Jika serius, maka berkomitmenlah. Jika tidak, maka ada dua hal yang bisa kamu lakukan: pergi sejauh-jauhnya, atau kembalilah nanti saat kamu sudah siap berkomitmen. Namun dalam jeda waktu pergi itu, ada banyak hal yang bisa terjadi. Sekali lagi, karena bukti serius adalah komitmen.

(Tulisan ini dibuat pada pukul 03.00 dini hari, sebagai hukuman KM Kepo,,,(hihihi). Terima kasih untuk yang telah menginspirasi)

Notes

Baper : bawa perasaan

(Visited 172 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *