Jika Hari Pertama Puasamu Di Rumah Sakit

Wah, tak terasa sekarang sudah Bulan Ramadan. Bulan yang sangat dinantikan tentunya bagi umat muslim. Sekarang memasuki tanggal dua ramadan. Apa kabar puasa kemarin? Apa menu buka dan sahur pertama kalian?

Sahur dan buka puasa pertama biasanya menjadi hal yang istimewa bagi mereka yang berpuasa. Di kampung saya misalnya, beberapa keluarga mengadakan ritual ‘mabbaca-baca’ pada malam pertama Ramadan. Biasanya akan disajikan nasi, songkolo’, ayam dan masakan lainnya di sebuah baki dengan dupa di sisi baki dan seorang ‘pabbaca’ atau si pembaca doa akan berdoa di depan baki berisi makanan tersebut. Mabbaca-baca itu sendiri bila diartikan adalah membaca. Dalam hal ini,  doa dari pabbaca biasanya berisi sholawat dan pujian terhadap Allah. Hal tersebut biasanya menjadi budaya dan sebagai wujud syukur dan suka cita menyambut datangnya Ramadan.

Tentunya suatu hal yang membahagiakan untuk bersantap sahur dan berbuka dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Mungkin itulah sebabnya banyak yang memilih pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga di hari pertama puasa.

Saya sendiri selalu berusaha menyempatkan diri untuk pulang kampung saat puasa pertama. Biasanya saat akan memasuki Ramadhan ibu akan menelpon “pulangmi dulu nak, maddupa puasa”. Madduppa puasa adalah bahasa bugis yang jika diartikan adalah menyambut puasa.

Saya selalu rindu dengan suasana tarwih di kampung. Berjalan kaki ke mesjid sambil bercerita ini itu dengan teman atau tetangga kampung. Atau menikmati wisata kuliner dadakan sekitar mesjid sepulang tarwih: sop ubi, gorengan, dan sarabba.

Namun tahun ini berbeda, tanggung jawab dan tuntutan kerja mengharuskan saya menghabiskan malam pertama Ramadan di rumah sakit, sahur bahkan berbuka puasa di rumah sakit. Bekerja di rumah sakit memang beresiko tanpa libur. Bukankah sakit tak mengenal libur?

Tak ada adegan dibangunkan ibu, cuci muka dan langsung makan, karena kami memang harus terjaga sampai sahur. Tak ada rasa nikmatnya menunggu depan TV saat berbuka dengan keluarga atau sambil duduk di teras menanti azan. Biasanya saat buka kami hanya saling bertanya satu sama lain “Bukamika? bukami?”. Jika salah seorang sudah berkata ya, kami semua pun ikut berbuka dengan takjil yang sudah dipesan. Setelahnya kami akan bergantian solat dan makan.

Tak ada menu yang direquest khusus untuk sahur atau buka di rumah karena ada nasi dos yang disiapkan rumah sakit, tak ada ribut-ribut anak muda berkeliling kampung membangunkan sahur. Saya biasanya membenci suara ribut itu. Mulai dari gentongan bambu sampai suara drum yang digesekkan ke jalan raya yang sungguh sangat mengganggu tidur. Tapi kali ini, saya rindu.

Mengeluh? Ya. Sedikit mungkin sebab bohong jika saya bilang tidak. Iri memang melihat teman-teman menikmati puasa pertama dengan keluarga di rumah. Iri melihat teman yang libur jaga tepat di awal puasa. Namun untuk mengatakan hal tersebut merupakan hal yang buruk atau sial tentunya tidak.

Setidaknya, saya bukan bagian dari mereka yang terbaring melawan sakit dan penyakit. Bukan juga bagian dari mereka yang menjaga keluarganya yang tengah terbaring di balik kamar rumah sakit. Seperti seorang ibu yang kebetulan saya tanyai saat mengambil sampel darah suaminya “sudah sahur Bu?” “Belum, ini masih menunggu makanan dari orang rumah”, kata si ibu. Saya merasa lebih bersyukur saat itu. Saya juga masih harus banyak bersyukur memiliki umur yang panjang untuk menikmati Ramadan tahun ini. Sudah banyak kematian menjelang Ramadan yang saya dapati di UGD. Hari itu seusai berbuka puasa salah seorang pasien meninggal. Keluarganya begitu histeris. Terutama sang anak yang menangis meraung saat itu. Semoga sang bapak meninggal dalam khusnul khatimah. Lagi-lagi saya harus bersyukur.

Saya hanya bagian kecil dari orang-orang yang kebetulan bekerja di jajaran pelayanan rumah sakit. Masih banyak perawat lainnya, dokter, petugas laboratorium, gizi, security, bahkan petugas kebersihan yang menghabiskan bersahur dan berbuka di rumah sakit ini.

Kami membagi rasa yang sama atau setidaknya hampir sama. Makanan dan minuman yang sama, juga lelah dan kantuk yang sama. Namun lagi-lagi syukur adalah hal yang memberi kekuatan pada kami. Yang jelas, kami masih menikmati Bulan Ramadan ini hanya tempat dan kondisinya saja yang berbeda.

(Visited 83 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *