Belajar Fiksi Dari Faisal Oddang

“Perang yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita. Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan alasan untuk bertahan. Karena itu saya memilih pergi. Ketika surat ini kau baca, barangkali saya sudah tiba di Tiongkok. Tidak usah khawatir, ada Hanafi yang membantu kepulangan saya. Surat ini saya tulis ketika dia tiba-tiba menghubungi untuk menjemput, demi keamanan, katanya. Aku meremas tanpa menyelesaikan surat itu, setelah menghela napas panjang, setelah gagal menahan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dan, tentu saja, setelah menyesali semuanya”.


Di atas adalah potongan paragraf pembuka cerpen karya Faisal Oddang yang bertajuk “Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi” yang sempat ia bacakan di kelas perdana Kepo Sesaat kemarin malam, 15 Januari 2018 di Secangkir Kopi.

Ya, semalam adalah kelas perdana Kepo Sesaat yang diinisiasi oleh teman-teman di Kepo Initiative yang beranggotakan  alumni dari Kelas menulis Kepo Angkatan pertama sampai keempat. Dan kelas perdana bertemakan Fiksi dengan pematerinya yaitu Faisal Oddang, alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin yang berbagai karyanya baik puisi, cerpen ataupun novel sudah banyak dinikmati, menghiasi media dan memenangkan berbagai penghargaan.

Kelas yang dihadiri 14 peserta yang telah diseleksi dari 69 pendaftar berjalan santai, selayak khasnya kelas menulis sebelumnya. Santai, tapi berbobot tentunya. Faisal Oddang membawakan materi Fiksi dengan sangat santai dan lebih banyak memberi contoh serta berinteraksi dengan peserta.

Kelas Fiksi oleh Faisal Oddang Sumber: Dokumentasi pribadi


Lalu, apa saja yang penting dalam fiksi? Setidaknya ada beberapa hal yang masuk dalam catatan saya semalam:

  • Tentang Fiksi

“Fiksi adalah sekumpulan fakta yang berkumpul menyusun dirinya sendiri”.

sumber : pesantrenmedia.com

Ini hal pertama tentang fiksi yang disampaikan oleh pria kelahiran Wajo ini. Fiksi bukan melulu tentang khayalan atau imajinasi. Fiksi lahir karena adanya fakta. Contoh nya sapu terbang. Sapu terbang adalah sebuah fiksi, namun sapu dan terbang adalah dua hal yang nyata adanya.

Selain itu cerpen “Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi” juga sebuah contoh tulisan fiksi yang lahir dari sebuah kenyataan yang ia ketahui setelah membaca sebuah buku bahwa dulunya masyarakat Makassar adalah pedagang kulit penyu. (Ingin banyak inspirasi? Banyak membacalah! #Notetoself!)

  • Paragraf  Pertama Harus Menarik

Saya sepakat dengan hal ini. Umumnya kita tidak akan melanjutkan untuk membaca bila paragraf awalnya saja tidak menarik. Kalau kata Oddang (Sapaan Faisal Oddang), “Jangan bikin laporan cuaca”. Sejenak banyak peserta yang terdiam, mungkin kurang paham, saya sendiri sebenarnya tidak mengerti, sebelum ia melanjutkan dengan memberi contoh “Angin bertiup sepoi-sepoi..”, “Matahari sangat terik…” dan sebagainya. Setelah itu banyak peserta yang tertawa. Saya pun tertawa, bukan menertawakan contoh kalimat pembuka yang seperti laporan cuaca itu, tapi lebih menertawakan diri sendiri.  Dulu, zaman SMP-SMA saya senang menulis cerpen, dan tersering, saya menulis dengan pembuka seperti di atas,dan saya akan merasa keren dengan membuka tulisan seperti tersebut di atas (re: laporan cuaca)

Setidaknya, kata Oddang melanjutkan, ada 3 hal yang harus ada dalam paragraph awal : menarik, provokatif, dan ada alasan untuk melanjutkan. Kalau membaca paragraf awal salah satu cerpennya di atas, kira-kira kalian ingin melanjutkan?. Kalau aku “Yes

  • Deskripsi Kuat

Bukan hanya dalam fiksi sebenarnya, namun untuk jenis tulisan yang lain pun, deskripsi dibutuhkan untuk tulisan jadi lebih hidup. Untuk membuat sebuah deskripsi yang kuat, maka salah satu tekniknya adalah dengan menyentuh indera dari pembaca. Misalkan dalam kalimat “Suara kendaraan lalu  lalang yang begitu bising dan bau got ”, maka kita akan membayangkan diri kita sedang berada di tengah kebisingan kendaraan yang berlalu lalang dengan bau got yang khas. Itu adalah contoh kalimat yang menyentuh indera pendengaran dan penciuman kita.

  • Tokoh dalam Fiksi

Tokoh harus dideskripsikan dengan jelas

Ada dua hal yang harus digambarkan dengan sangat jelas untuk tokoh dalam fiksi, lanjut penulis novel “Puya ke Puya” ini,  yaitu dari segi fisik dan sifat tokoh itu sendiri. Lagi-lagi, deksripsi sebuah tokoh harus jelas, sehingga kita bisa memperkirakan seperti apa fisik dari tokoh yang sedang kita baca. Selain penggambaran fisik, karakter sebuah tokoh dalam fiksi harus memiliki latar belakang yang jelas, lanjut Oddang dalam penjelasannya.


Kelas yang berlangsung selama dua jam tidak begitu terasa. Selanjutnya kelas ditutup dengan foto bersama. Setelah kelas ini, mungkin saya akan belajar menulis fiksi, mengingat selama ini saya lebih banyak melahap bacaan dengan genre fiksi. Meski, fiksi nampak mudah karena karakter dan cerita yang bisa kita ciptakan dengan bebas, lagi-lagi menulis fiksi tidak semudah mengkhayal. Seperti kata Faisal Oddang “Lakukan apa pun dalam fiksi, selama itu beralasan”

(Visited 58 times, 1 visits today)

About ruris

a lecturer. an emergency nurse. muslim. thinking introvert. love to share anything. enjoy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *