Sebuah Catatan tentang 2017


“Time flies so fast”

Apa kabar akhir pekan ke dua 2018 ini?

Waktu setahun benar-benar berlalu tanpa terasa. Masih segar dalam ingatan bagaimana tepat setahun lalu saya menghabiskan pergantian tahun di sebuah pedalaman di kabupaten Bone. Dusun Bahonlangi. Tak ada keramaian, tak ada pesta, tak ada petasan, terlebih kembang api. Saya bahkan sempat ingin menulis sebuah tulisan dengan judul ‘Tak Ada Kembang Api di Bahonlangi’, tapi lagi-lagi, hanya sebatas judul dan berbagai ide yang melintas di otak.

Setiap tahun baru saya memang akan menulis, tapi ini bisa jadi salah satu tulisan panjang di awal tahun. Biasanya saya hanya akan menulis potongan kalimat singkat tentang refleksi akhir tahun atau quotes apalah-apalah.

2017 berlalu, dan saya merasa bahwa banyak waktu yang terbuang begitu percuma, tidak banyak pencapaian menurut saya meski sepertinya tahun ini banyak menguras tenaga dan waktu. Tapi kemudian saya sadar, pikiran seperti itu sepertinya sebuah bentuk ketidaksyukuran nikmat. Saya kemudian berbalik, ada banyak hal di 2017 yang harus saya syukuri. Ada banyak peristiwa penting dan patut untuk dikenang. Ini adalah hal-hal memorable di 2017, semoga menjadi pengingat di masa-masa yang akan datang:

  1. Tempat baru yang saya kunjungi

Januari 2017 saya mengunjungi Lombok, bukan untuk sekadar jalan-jalan, tapi untuk mengikuti Kelas Inspirasi Lombok. Tapi selagi di sana, saya menyempatkan tinggal untuk melihat beberapa spot di Lombok. Beberapa tempat yangsaya kunjungi diantaranya Sembalun yang merupakan kaki Gunung Rinjani, di sinilah lokasi Kelas Inspirasi dilaksanakan. Merasakan dua  hari suasana desa dan pegunungan dengan hawa sejuk benar-benar menjadi pembuka awal tahun yang baik. Selain ituselama seminggu di sana, saya juga menyempatkan ke  Tanjung Aan, Pantai Kuta, Bukit Merese, Senggigi, melihat keunikan Suku Sasak di Desa Sade, dan tentunya ke Gili Trawangan (kampungan ya? Biar!)

Siswa SDN 2 Bilok Petung, Sembalun, Lombok Timur Pada Kegiatan Kelas Inspirasi Lombok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pertengahan tahun, tepatnya di Bulan Agustus saya mengunjungi salah satu pulau di Bagian Timur Indonesia, yaitu di Maluku Utara. Ini kali pertama bepergian jauh sendiri. Selain menikmati indahnya Kota Ternate selama beberapa hari (view Ternate di antara gunung dan laut benar-benar memanjakan mata, sebuah kota yang layak dijadikan tempat menghabiskan waktu di masa tua, menurut saya). Saya juga menyambangi Pulau Morotai, Pulau Dodola, dan Kolorai. Matahari di pulau ini begitu menyengat, sangat panas (saking panasnya, ada istilah “Di sini mataharinya satu orang satu”, dan akhirnya saya dapat oleh-oleh ‘gosong’. Seminggu di sana juga sangat sangat membahagiakan, selain karena Malut sangat indah, saya juga reuni dengan banyak teman sewaktu kuliah, juga mendapat teman-teman baru tentunya.

Pulau Dodola, Morotai, Maluku Utara

Satu lagi tempat yang sangat berkesan adalah Bahonlangi. Sebuah dusun yang saya sebutkan di awal tulisan saya. Awal saya ke tempat ini sekitar akhir 2016 dan selama 2017 saya ke tempat ini sebanyak tiga atau empat kali, meski ke dusun ini harus penuh perjuangan: dengan motor atau mobil selama kurang lebih 4 jam plus jalan kaki kurang lebih 3-4 jam juga. Tapi semua lelah akan terbayar dengan pemandangan, keramahan warga dan cerianya anak-anak di sana saat kita mengajari mereka (setiap ke sini saya dan teman-teman 1000 Guru Sulsel akan mengajar di kelas mereka).

Dusun Bahonlangi,salah satu daerah pedalaman di Bone.
(Sumber: Dok pribadi)

  1. New Job

Akhir 2017 menjadi tahun ketiga saya bekerja sebagai perawat di IGD dengan segala campur aduk perasaan di dalamnya. Ada banyak canda, ada banyak cerita, ada banyak pelajaran, ada banyak lelah tentunya. Bulan Maret saya mulai mengajar di salah satu Universitas swasta di Makassar. Sebuah keinginan yang Alhamdulillah terasa sangat dimudahkan. Pengalaman baru, membagi ilmu dengan mahasiswa. Pengalaman baru menyusun kurikulum dan materi. Pengalaman baru membimbing mahasiswa non-reguler yang usianya lebih tua.

Sempat galau karena ditawari bekerja full time di kampus, yang jadwalnya seperti manusia normal pada umumnya, tapi saya belum siap bekerja dari Senin-Sabtu nyatanya.

  1. Masuk Rumah Sakit Sampai Harus Operasi

Pernah sekali masuk UGD karena jatuh dari motor, dan selama 10 hari kaki istirahat tanpa injak tanah. Pernah sekali harus konsul ke dokter mata karena mata kena biji tumbuhan (Jangan bilang saya manja, aslinya memang sakit) tapi untungnya tidak ada masalah yang berarti.

Dan yang terparah sampai harus rawat inap dan operasi sebanyak dua kali adalah di Bulan Oktober karena batu ureter (saluran kemih). Saya bahkan operasai sampai dua kali, untuk pemasangan alat dan pelepasannya.

Terakhir saya dirawat di rumah sakit sewaktu SMP, dan baru kali ini merasakan lagi dirawat di rumah sakit.  Merasakan nyeri saat dipasang infus, disuntik, dan dibius secara spinal (you can check it on google), bagian inilah yang paling sakit. Heheh.

Untuk pertama kalinya merasakan berada di ruang operasi yang dingin dan menggantungkan harapan pada orang lain dan Tuhan tentu saja.

4. Ber-komunitas

Saya bergabung menjadi bagian dari kepengurusan 1000 Guru Sulsel sejak tahun 2016 dan tahun 2017 menjadi tahun yang sedikit banyak menyibukkan diri di Komunitas yang berfokus pada pendidikan anak di pedalaman ini.

 

Selain di 1000 Guru, saya juga banyak belajar di Kelas Menulis Kepo. Kelas yang di dalamnya terdiri dari anggota komunitas lain juga, kelas untuk belajar menulis. Dari kelas ini pula, pelangikata ini lahir.

  1. Berada di lingkaran pengajian

Ada sebuah rutinitas yang sejak 10 tahun lalu saya ikuti. Ya. Pengajian. Kami menyebutnya dengan tarbiyah atau liqo. Dalam sebuah lingkaran kecil di setiap pekannya kami akan bertemu, saling menasihati dalam hal agama, bertukar cerita, saling memperbaiki bacaan Al- Quran dan banyak lagi. Saya sangat bersyukur terjebak dalam lingkaran kebaikan ini.

Kalau dibilang sholeh, tentu saya tidak masuk dalam hitungan ini, meski sudah lama berada di lingkaran tarbiyah. Karena saya butuh diingatkan dan nasehat maka saya insya Allah akan terus berada di lingkaran ini. Karena agama itu sendiri adalah nasehat.

  1. Duka dan Kehilangan

Tahun 2017 saya kehilangan dua orang teman terbaik saya. Seorang merupakan teman di Komunitas 1000 Guru Sul-Sel dan seorang lagi adalah teman nongkrong, teman jalan,teman nonton dan teman ngajar di kampus. Keduanya sebaya dengan saya. Mati benar tak mengenal umur dan kematian adalah sebaik-baik nasihat.

 

2017: terima kasih untuk semua cinta, bahagia, keluarga, teman dan suka cita. Pun atas semua duka, sakit dan air mata, semoga bisa jadi pelajaran.

Dear 2017, thanks for all the lesson!

 

(Visited 13 times, 1 visits today)

About ruris

a lecturer. an emergency nurse. muslim. thinking introvert. love to share anything. enjoy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *