Bapak, Ajak Saya Ke Sana

Tempat ini seperti sebuah kota kecil dengan nafas dan kehidupannya sendiri…


 

Saya lupa tepatnya hari itu tanggal berapa, tapi kira-kira kejadian ini sewaktu saya duduk di bangku SMA. Mungkin kelas tiga saat itu.

Kapal-kapal berjejer dengan apik dan rapi. Sepertinya mereka siap untuk berlayar ke tempat tujuan. Pantai ini menjadi mirip dengan dengan pelabuhan kapal. Namun kapal-kapal di sini lebih cantik menurutku. Ada beberapa kapal besar dan kapal kecil para nelayan. lautnya sangat biru, bersih dari sampah. Berbeda dengan pelabuhanyang biasanya airnya keruh kecoklatan dan berbau sampah.

Terdapat pasar kecil di sepanjang pantai. Para penjual yang kebanyakan menawarkan ikan segar nampak melayani pembeli dengan senyum ramah. Beberapa kuli pasar berseliweran mengangkat barang dagangan utnuk dibawa ke para penjual. Sangat ramai, namun lagi-lagi saya sangat menikmatinya.

Mungkin hari itu sekitar pukul sembilan pagi. Saya hanya memperkirakan dengan melihat posisi matahari saat itu. Saya tidak membawa handphone terlebih jam tangan. Udaranya pun masih begitu sejuk.

Di belakang pasar kecil itu berdiri beberapa rumah dan lorong-lorong kecil. Rumah-rumahnya tertata rapi meskipun saling berdempetan satu sama lain. Seingatku semua rumah atau mungkin hampir semua rumah terdiri dari dua lantai semi permanen. Lantai satu dibuat menjadi toko dengan lantai dua yang terbuat dari kayu. Di teras rumah-rumah tersebut tertata berbagai bunga sebagai penghias, juga meja dan kursi kayu utnuk bersantai.

Lorong-lorong kecil di belakang pasar yang nampak seperti pasar dadakan ini merupakan jalan menuju rumah-rumah lain yang berada di belakang. Jalanannya terbuat dari aspal hitam yang licin. Rumah-rumah di belakang juga berdempetan. Rata-rata berlantai dua dengan beberapa rumah terdiri dari bata merah yang dibiarkan tanpa semen dan cat luar sehingga terkesan klasik. Hanya saja saya tidak atau belum sempat berjalan lebih jauh ke dalam.

ilustrasi (sumber foto: www.algarvetips.com)

ilustrasi
(sumber foto: www.algarvetips.com)

Tempat ini seperti sebuah kota kecil dengan nafas dan kehidupannya sendiri. Rumah yang tertata rapi, kehidupan nelayan dan pedagang, dan penduduk yang ramah. Seperti sebuah negeri dongeng namun dalam konteks yang lebih moderen. Ada yang pernah menonton drama Taiwan Beach Boys? Drama ini muncul seiring kemunculan drama Taiwan yang terkenal di jaman saya SMP sampai SMA, Meteor Garden, meski tidak seterkenal MeteorGarden. Drama ini tayang saat liburan Ramadan dulu jadi saya selalu mengikuti drama yang tayang tiap Senin smpai Jumat ini. Jika ada yang pernah menonton, kira-kira setting tempat di drama itu ya seperti di sini.


 

Saya terus berjalan menyusuri pasar. Saya hanya berjalan kaki saat itu, meski beberapa nampak asyik bersepeda ria. “Pak, Bapak!”, saya berteriak memanggil Bapak. Tak sengaja bertemu dengan beliau di pasar. Saya ingat,Bapak memang suka memasak. Mungkin kali ini ia akan memasak ikan segar yang dipilihnya sendiri di pasar.

Tapi tunggu dulu, ia berpakaian rapi kali ini. Wajahnya cerah berseri. Bapak berkata akan pergi ke suatu tempat. “Ikut ka’ paeng Pak nah!” Saya merengek saat itu, ”Janganmi dulu Nak”. “Aii Bapak Una jek” saya memanggil Bapak dengan panggilan khusus dari anak-anaknya berharap dia luluh. Namun lagi-lagi Bapak menolak dengan mata teduhnya. Dan akhirnya, saya kalah. Bapak pergi sendiri.


 

Saya terbangun, beristigfar berkali-kali dengan mata yang sembab. Saya mungkin terlalu rindu saat itu sampai Tuhan membuat saya bermimpi tentang Bapak untuk membayar rindu saya. Yang saya pahami, Bapak pasti berada di tempat yang sangat indah sehingga Tuhan memberikan saya mimpi di mana bapak berada di tempat yang ingin saya tinggali. Saya selalu percaya bahwa Tuhan akan melayakkan tempat untuknya. Sosok yang sangat baik, penyayang dan sabar. Itu menurutku dan menurut orang-orang yang mengenal Bapak. Bapak yang menghembuskan nafas terakhirnya di Jumat subuh dengan tenang. Semoga khusnul khatimah.

Al Fatihah buat Bapak.

 

(Visited 72 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *