5 Hal yang Menggemaskan Saat Jaga UGD

sumber gambar : www.scrubsmage.com

sumber gambar : www.scrubsmage.com

Unit Gawat Darurat atau UGD merupakan ruangan tersibuk di sebuah rumah sakit. Bagaimana tidak, UGD menjadi pintu masuk bagi pasien baru terutama pasien dengan kasus gawat dan darurat. Dua tahun bekerja sebagai perawat di UGD di sebuah rumah sakit besar di Makassar memberi banyak pengalaman untuk saya. Berikut 5 hal menggemaskan nyaris mengesalkan saat jaga UGD:

  1. Suasana pasar

Panas, ramai, ribut. Untungnya lantai rumah sakit terbuat dari tegel jadinya kaki masih aman dari becek dan lumpur utamanya di musim hujan. Bagaimana tidak berasa layaknya pasar? Jika satu pasien didampingi oleh 3, 4 bahkan sangat banyak pendamping yang mana menurut peraturan pasien UGD hanya didampingi oleh satu atau dua pendamping (jika dalam kondisi gawat), meski security 24  jam menjaga namun tetap saja, sebentar diamankan, sebentar ramai lagi. Ruangan yang dilengkapi ac sentral pun seperti tanpa arti jika pasien membludak bahkan mencapai 80 lebih pasien.

  1. UGD berasa piknik

Jika yang tadi UGD rasa pasar. Nah sekarang UGD rasa piknik. Kapan saya melihat pemandangan ini? Mulai di koridor samping dan belakang UGD. Terutama di sore dan malam hari saat penjagaan  security tidak begitu ketat. Bahkan bebrapa kali suasana piknik saya dapati dalam ruangan. Tiga atau empat penjaga pasien duduk melingkar di depan tempat tidur pasien. Bercerita sambil makan makanan ringan. Hal ini biasanya jika keluarga yang mereka jaga  dalam kondisi yang stabil. Tak jarang  jika melihat pemandangan seperti ini, saya akan berbisik ke teman “lihat dulue itu, kurang domino mami

  1. Keluhan bersamaan

Namanya saja rumah sakit, jelas pasien datang dengan berbagai macam keluhan. Namun hal yang kadang membuat lelah bahkan ingin berteriak rasanya jika 4 sampai 5 keluarga pasien datang mengeluh secara bersamaan. “ sus, habiskki infusnya”, “kenapa masih sakit perutnya”, “kenapa belum keluar hasil darahnya?” “kapan mau cuci darah pasiennya”, “terlepaski NGT nya”, “terlepaski infusnya” dan seterusnya dan seterusnya. Bisa saya tidur dulu?

er

  1. Pasien “Psikis”

Seorang wanita awal 20-an masuk UGD dipapah oleh beberapa teman atau keluarganya, biasanya pasien seperti ini akan datang dengan keluhan dari pendampingya yaitu  pingsan, atau yang paling sering dengan gejala sesak nafas dengan dada yang kembang kempis atau lebih tepatnya dikembang kempiskan dengan sengaja. Hal ini sering terjadi. Bukan fisik sebenarnya yang sakit, tapi jiwanya. Bukan juga kelainan mental, tapi mungkin lebih kepada mencari perhatian. Pura-pura pingsan atau pura-pura sesak.  Karena sudah sering terjadi, kami yang di UGD bisa tahu pasien model ini dengan sekali melihat.

Paling sering atau hampir semua karena masalah romansa, masalah dengan teman atau masalah keluarga. Mereka mencari solusi dengan pura-pura sakit dan masuk UGD. Sayangnya, yang repot adalah kami, dan kasihan pasien lain yang benar-benar sakit dan membutuhkan pelayanan menjadi terbagi karena adanya pasien “model” begini.

  1. Keluarga Cendana

Kami memberi label “Keluarga Cendana” pada pasien yang berlatar belakang dari keluarga dengan kekuasaan tertentu.  Keluarganya Pak ‘ini’ atau Bu ‘ini’ atau keluarganya ‘kosong sekian’ dan ‘kosong sekian’. Yang korban adalah kami rakyat  jelata. Karena pasien seperti ini tak jarang merasa spesial dan ingin ditangani segera.

 

Mungkin terkesan curhat? Atau berlebihan? Masih banyak sebenarnya pengalaman selama jaga di UGD. Meski terkesan mengesalkan, namun ada banyak hal menyenangkan juga selama jaga.

 

(Visited 82 times, 1 visits today)

About Ruris

Muslimah. Mahasiswi. Perawat. Physiologist wanna be. Great writer one day. Senang belajar ini dan itu. Berteman dengan siapa saja. Love at writing, reading, travelling, eating and sleeping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *